Pahami Fobia Ketinggian dan Cara Mengatasinya

Pahami Fobia Ketinggian dan Cara Mengatasinya

Stukhealth.net – Fobia ketinggian atau akrofobia merupakan ketakutan yang berlebihan terhadap ketinggian. Rasa takut yang dialami penderita fobia ketinggian dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti kecemasan, stres, hingga panik, saat berada di tempat tinggi. Meski tidak mudah, fobia ketinggian sebenarnya dapat diatasi.

Seseorang yang menderita fobia ketinggian biasanya akan menghindari kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan tempat tinggi, seperti berdiri di balkon, melintasi jembatan, melihat keluar jendela dari gedung pencakar langit, atau hanya sekadar duduk di bangku stadium.

♦ Gejala Fobia Ketinggian
Penderita fobia ketinggian bisa merasakan ketakutan, kecemasan, dan panik yang tidak terkontrol saat berada di ketinggian, meskipun situasinya tidak berbahaya. Reaksi-reaksi lain yang juga dapat muncul adalah gemetaran, dada berdebar, pusing, berkeringat dingin, mual, sesak napas, hingga pingsan.

Hanya dengan membayangkan berada di tempat tinggi saja, penderita fobia ketinggan dapat merasa takut, cemas, bahkan mengalami serangan panik. Penderita fobia ketinggian sebenarnya menyadari bahwa rasa takut yang dirasakannya tidaklah wajar, tapi mereka tetap tidak dapat meredam rasa takut tersebut.

♦ Cara Mengatasi Fobia Ketinggian
Rasa takut akibat fobia ketinggian bisa mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Pada kondisi yang cukup parah, memanjat tangga untuk memasang tirai, mengganti lampu bohlam, atau membersihkan jendela saja sudah membuat penderitanya ketakutan.

Jika sudah demikian, kondisi ini tentu perlu mendapatkan penanganan. Berikut ini adalah beberapa metode pengobatan untuk mengatasi fobia ketinggian :

➢ 1. Terapi paparan
Terapi paparan dianggap sebagai salah satu terapi yang paling efektif untuk mengatasi fobia ketinggian. Dalam terapi ini, terapis akan membantu pasien untuk membuka diri secara perlahan terhadap hal yang ditakuti.

Terapi ini bisa dimulai dengan melihat gambar dari sudut pandang seseorang di dalam gedung tinggi. Pasien juga mungkin diminta menonton video orang-orang yang melintasi tali, mendaki, atau melintasi jembatan sempit.

Selanjutnya, pasien mungkin diminta berdiri di balkon sambil ditemani oleh terapis. Pada tahap ini, pasien akan belajar teknik relaksasi untuk membantu mengatasi rasa takut ketika berada di ketinggian.

Baca Juga : Tips Menerapkan Gaya Hidup Sehat

➢ 2. Terapi perilaku
Terapi perilaku kognitif (cognitive behavior therapy/CBT) adalah salah satu teknik psikoterapi yang paling umum dilakukan untuk mengatasi fobia. CBT cocok bagi penderita fobia ketinggian yang belum siap menjalani terapi paparan.

Fokus terapi ini adalah mengidentifikasi dan mengubah pikiran serta reaksi negatif terhadap situasi yang menyebabkan fobia. Dengan menjalani terapi perilaku, pasien akan dibimbing untuk mengalihkan perasaan takut dan mengatasi gejala yang muncul.

➢ 3. Obat penenang
Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan fobia. Namun beberapa jenis obat, seperti obat pereda cemas dan antidepresan, setidaknya mampu menjadikan penderita fobia ketinggian lebih tenang dalam menghadapi kecemasannya ketika gejala muncul. Meski begitu, penggunaan obat-obatan ini harus mengikuti petunjuk dokter.

Jika fobia ketinggian yang Anda alami sudah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan ke psikiater atau psikolog untuk mendapatkan penaganan, karena tidak mungkin selamanya Anda bisa menghindari tempat-tempat yang tinggi, menyeberangi jembatan, atau naik pesawat untuk bepergian.

Tips Menerapkan Gaya Hidup Sehat

Tips Menerapkan Gaya Hidup Sehat

Stukhealth.net – Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), pola makan tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko kesehatan global yang utama. Meningkatnya produksi makanan olahan, pesatnya urbanisasi dan gaya hidup tak sehat membuat Anda rentan terserang berbagai jenis gangguan kesehatan, seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker. Memulai gaya hidup sehat bisa menjauhkan Anda dari risiko-risiko kesehatan tersebut.

Gaya hidup sehat adalah komitmen jangka panjang dengan manfaat kesehatan yang menyeluruh bagi tubuh dan kehidupan Anda. Meningkatnya kesehatan tubuh, mental dan emosional akan turut meningkatkan kualitas hidup Anda serta membawa pengaruh positif bagi orang-orang di sekitar Anda.

Penerapan Gaya Hidup Sehat
Menerapkan gaya hidup sehat perlu disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, kondisi kesehatan, bahkan kebiasaan makan Anda. Hasilnya pun akan bervariasi, Anda tidak bisa menjalankan atau mengharapkan hasil perubahan gaya hidup yang sama dengan seseorang yang kondisi tubuh atau kesehatannya berbeda dengan Anda, misalnya mengikuti model atau aktor idola.

Berikut adalah beberapa cara memulai gaya hidup sehat yang bisa langsung Anda terapkan dan jadikan kebiasaan atau rutinitas baru.

• Mengetahui status kesehatan tubuh dan buatlah janji perawatan jika dibutuhkan.
Lakukanlah pemeriksaan tahunan (medical check up) yang mungkin belum pernah atau jarang sekali Anda lakukan dan periksa juga daftar vaksinasi yang wajib didapatkan. Beberapa jenis vaksinasi diberikan sebanyak lebih dari satu kali dengan jadwal khusus. Segera buat janji dengan dokter jika hasil pemeriksaan kesehatan rutin menunjukkan kelainan atau terdapat vaksinasi yang harus dilakukan.

Ketahui indeks massa tubuh (IMT) dan ukuran lingkar pinggang Anda untuk mengecek apakah terdapat faktor risiko penyakit, seperti obesitas. Anda bisa melakukan ini bersamaan dengan pemeriksaan rutin. Kenali juga tingkat aktivitas fisik Anda, misalnya berapa banyak aktivitas yang dilakukan dalam seminggu dan seperti apa intensitasnya. Dengan mengetahui kondisi fisik dan kesehatan tubuh Anda, Anda bisa menentukan langkah selanjutnya dari perubahan gaya hidup sehat yang sesuai untuk dilakukan. Diskusikanlah dengan dokter mengenai jenis aktivitas maupun pola makan yang dianjurkan bagi kondisi Anda.

• Membenahi diet atau pola makan dan menghentikan kebiasaan buruk.
Mulailah membuat catatan harian berisi daftar makanan apa saja yang Anda konsumsi setiap hari. Ya, itu termasuk gorengan yang Anda konsumsi sambil menunggu jadwal kereta, misalnya. Buatlah tanpa memiliki penilaian apa pun. Ingatlah, Anda melakukan ini untuk mengetahui apa saja yang perlu diubah dari pola makan yang lama. Anda tidak bisa beralih ke gaya hidup sehat jika tidak tahu apa saja kebiasaan lama yang perlu dihilangkan atau dipertahankan. Diskusikanlah bersama dokter dan seorang ahli gizi mengenai jenis, jumlah asupan makanan, dan tips pola makan lain yang Anda butuhkan.

Baca Juga : Manfaat Dari Jahe Bagi Kesehatan

• Perbanyak aktivitas fisik dan kelola stres.
Orang dewasa dianjurkan untuk menyisihkan setidaknya dua setengah jam per minggu untuk melakukan aktivitas aerobik (misalnya berjalan dan berlari) dengan intensitas sedang. Atau Anda bisa menyisihkan satu jam dan 15 menit dalam seminggu untuk melakukan aktivitas aerobik intensitas tinggi, ditambah aktivitas penguatan otot, seperti push-up dan sit-up, setidaknya dua hari dalam seminggu. Buatlah kalendar aktivitas fisik dan target mingguan yang fleksibel, realistis, dan menyenangkan.

Menjaga kesehatan mental juga termasuk ke dalam gaya hidup sehat. Selipkan aktivitas seperti yoga dan meditasi untuk mengatasi stres. Tentukan cara atau aktivitas yang bisa Anda lakukan ketika stres dan emosi menyerang, misalnya dengan berlari naik-turun tangga atau berdiam diri sejenak di dalam toilet untuk kembali fokus. Latihan pernapasan tidak hanya mengingatkan Anda untuk bersyukur namun juga mengevaluasi ulang perspektif dan keputusan yang perlu diambil. Ingatlah hal-hal positif yang terjadi dalam hidup dan Anda akan menyadari betapa banyaknya hal yang sudah Anda capai atau miliki.

• Perbaiki waktu tidur.
Buatlah jadwal tidur yang tetap. Usahakan gawai, komputer atau televisi Anda sudah mati setidaknya dua jam sebelum waktu tidur yang telah ditentukan. Olahraga berat sebelum tidur juga tidak dianjurkan. Anda bisa mandi air hangat dan minum secangkir teh untuk membuat badan dan pikiran menjadi rileks, sehingga membantu Anda lekas tidur. Jangan anggap remeh gangguan tidur, segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai, jika tidur Anda bermasalah.

• Tingkatkan hubungan dengan orang di sekitar Anda.
Perubahan gaya hidup bukan sekadar diet dan olahraga saja, interaksi sosial dengan orang di sekitar Anda juga turut berkontribusi pada kesehatan mental dan emosi Anda. Anda tidak perlu harus menyamakan semua aspek kehidupan Anda dengan tetangga atau teman Anda, tapi Anda tetap perlu meluangkan waktu untuk bersosialisasi, baik itu secara virtual maupun bertatap muka. Meningkatkan hubungan dengan sesama akan memberikan rasa nyaman bagi masing-masing pihak. Namun, jika Anda merasa sulit bersosialisasi, atau jika Anda berada dalam hubungan yang tidak sehat, maka Anda perlu segera mencari pertolongan. Dokter akan membantu Anda mencari tahu sumber permasalahan dan bagaimana cara mengatasinya.

Perbanyak juga melakukan aktivitas yang merangsang kreativitas otak bersama orang di sekitar Anda. Baiknya aktivitas ini dimulai sedari kecil dibarengi dengan pendidikan formal yang saling mendukung. Menurut para ahli saraf, melakukan aktivitas seperti ini akan lebih berpengaruh pada kesehatan otak dan tubuh secara keseluruhan dibanding permainan komputer yang dimainkan secara individu.

Walau sulit berpaling dari kebiasaan lama, Anda perlu menyadari bahwa dengan menjadikan gaya hidup sehat sebagai kebiasaan yang baru, risiko terserang berbagai jenis penyakit pun akan ikut berkurang, termasuk penyakit kronis. Penampilan fisik bertambah baik, kesehatan mental terjaga, dan energi Anda meningkat.

Gaya hidup sehat juga memperbesar kesempatan Anda untuk hidup lebih panjang. Sebuah penelitian membuktikan bahwa kebiasaan berjalan kaki minimal selama 30 menit setiap hari dapat menurunkan risiko meninggal di usia dini secara signifikan. Jadi tunggu apa lagi? Jangan tunda terus mengubah pola hidup lama Anda ke gaya hidup sehat.

Manfaat Dari Jahe Bagi Kesehatan

Manfaat Dari Jahe Bagi Kesehatan

Stukhealth.net – Jahe merupakan tanaman herba yang kerap dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai kondisi, mulai dari mual, batuk, nyeri sendi, hingga nyeri akibat terapi kanker. Namun jika ditinjau dari segi medis, setidaknya ada lima manfaat jahe yang baik bagi tubuh.

Jahe memiliki senyawa kimia yang dipercaya bisa bereaksi positif di dalam lambung dan usus hingga mampu mengurangi mual dan nyeri. Senyawa tersebut juga diduga bisa bekerja baik di otak dan sistem saraf guna meredam rasa mual. Di samping itu, masih banyak manfaat jahe untuk kesehatan yang bisa kita dapatkan.

Manfaat Jahe bagi Kesehatan Tubuh
Berikut lima kondisi yang diyakini dapat diatasi dengan mengonsumsi jahe:

1. Meredakan Pusing
Pusing bisa membuat Anda kehilangan keseimbangan, penglihatan seperti berkunang-kunang, dan mungkin disertai oleh mual. Gejala pusing yang diikuti mual diduga bisa diredakan dengan mengonsumsi jahe.

2. Mengurangi nyeri menstruasi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi jahe bisa membantu mengurangi gejala nyeri menstruasi. Khasiat jahe sepertinya dapat disamakan dengan obat ibuprofen dan asam mefenamat . Bagi wanita yang sering merasa nyeri saat menstruasi, bisa coba mengonsumsi ekstrak jahe sebanyak kurang lebih 500 – 2000 mg, selama tiga hari di awal menstruasi.

3. Mencegah morning sickness
Kondisi mual dan muntah akibat morning sickness kerap dialami oleh wanita di awal masa kehamilan. Untungnya, mual dapat dikurangi dengan mengonsumsi jahe. Namun ingat, ibu hamil tidak boleh sembarang mengonsumsi obat, termasuk herba dan obat-obatan tradisional. Oleh karena itu, konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter sebelum mengonsumsi jahe.

Baca Juga : Apakah Mengonsumsi Bawang Putih dan Jahe Bisa Mencegah COVID-19

4. Osteoarthritis
Osteoarthritis adalah kondisi nyeri sendi atau kekakuan sendi yang disebabkan oleh cedera, obesitas, dan penuaan sendi. Menurut sejumlah penelitian, rasa sakit akibat kondisi ini dapat diatasi dengan mengonsumsi ekstrak jahe. Tidak hanya melalui mulut, pijat menggunakan minyak terapi yang mengandung jahe dan jeruk juga dapat mengurangi kekakuan sendi dan nyeri akibat osteoarthritis.

5. Mengurangi rasa mual dan muntah usai operasi
Mengonsumsi jahe satu jam sebelum operasi diduga bisa mengurangi rasa mual dan muntah selama 24 jam pasca operasi. Selain dikonsumsi melalui mulut, mengoleskan minyak jahe juga diduga bisa mencegah mual

Apakah Anda pernah mendengar klaim yang menyatakan bahwa jahe dapat mencegah mabuk darat dan laut? Menurut pengalaman beberapa orang, mengonsumsi jahe sebelum bepergian bisa membuat mereka merasa lebih baik. Tapi sayangnya efektivitas jahe dalam mengatasi mabuk darat dan laut belum dibuktikan kebenarannya secara medis. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan khasiatnya. Begitu pula dengan klaim manfaat jahe yang berkaitan dengan penurunan berat badan.

Perlu diperhatikan, ada beberapa kalangan yang harus berhati-hati atau sebaiknya tidak mengonsumsi jahe. Mereka adalah ibu hamil dan menyusui, penderita diabetes, penderita sakit jantung, serta orang yang memiliki gangguan pembekuan darah. Walau jahe diduga aman untuk dikonsumsi oleh kebanyakan orang, namun tetap ada efek samping ringan yang dapat ditimbulkan, seperti diare, rasa tidak nyaman di perut, dan nyeri ulu hati. Jika dioleskan pada kulit, kemungkinan jahe bisa menyebabkan iritasi.

Dari segi medis, manfaat jahe memang belum ada yang benar-benar terbukti efektif. Ada baiknya untuk mengonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter sebelum mengonsumsi zat apa pun yang ditujukan untuk pengobatan, maupun sebagai pendamping pengobatan.

Apakah Mengonsumsi Bawang Putih dan Jahe Bisa Mencegah COVID-19

Apakah Mengonsumsi Bawang Putih dan Jahe Bisa Mencegah COVID-19

Stukhealth.net – Penyakit COVID-19, termasuk pencegahan dan pengobatannya, tengah menjadi perbincangan yang marak di masyarakat. Akhir-akhir ini, bahkan muncul kabar bahwa jahe dan bawang putih bisa mencegah penularan penyakit ini. Lantas, apakah hal tersebut benar?

Hingga saat ini, COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 85 ribu orang dari berbagai negara. Gejala ringan yang disebabkan oleh virus ini bisa menyerupai gejala flu, seperti nyeri tenggorokan, pilek, sakit kepala, batuk, dan demam.

Sejak ada 2 warga Indonesia yang dilaporkan positif terinfeksi virus Corona, muncul kekhawatiran mengenai penularan penyakit ini di Indonesia. Akibatnya, banyak orang mencari cara untuk melindungi diri dari infeksi ini. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi jahe dan bawang putih.

Bisakah Jahe dan Bawang Putih Menangkal COVID-19?
Bawang putih memang mengandung senyawa yang memiliki sifat antibakteri, antivirus, dan antioksidan yang baik untuk kesehatan. Bahkan, bumbu yang berbau khas ini dipercaya dapat meningkatkan kerja sel darah putih dalam memerangi virus penyebab batuk dan pilek.

Selain itu, rutin mengonsumsi beberapa siung bawang putih per hari juga dipercaya dapat menurunkan kadar kolesterol dan lemak darah, serta menurunkan risiko terjadinya hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Walaupun begitu, belum ada bukti bahwa konsumsi bawang putih bisa mencegah COVID-19.

Baca Juga : Cara Atasi Nyeri Leher Akibat Terlalu Lama di Depan Komputer

Jahe mengandung senyawa aktif bernama gingerol yang diduga bisa melawan respiratory syncytial virus penyebab infeksi saluran pernapasan. Rempah yang memiliki rasa agak pedas ini juga terbukti memiliki efek antiradang dan antioksidan.

Penggunaan jahe pada ibu hamil telah terbukti dapat mengurangi mual. Selain itu, jahe juga diduga dapat mengurangi rasa nyeri pada radang sendi maupun menstruasi, serta meredakan dispepsia.

Namun, sama halnya dengan bawang putih, belum ada bukti bahwa jahe bisa mencegah atau mengatasi infeksi virus Corona.

Pencegahan COVID-19 yang paling efektif adalah dengan mencuci tangan, menjaga jarak dengan orang yang dicurigai terinfeksi virus Corona, dan menjaga daya tahan tubuh.

Tidak ada salahnya jika kamu ingin mengonsumsi bawang putih dan jahe. Selain bisa meningkatkan daya tahan tubuh, kedua bumbu ini juga bisa menambah cita rasa makananmu.

Walaupun begitu, ingat bahwa bawang putih dan jahe belum terbukti dapat mencegah infeksi virus Corona, apalagi menyembuhkannya. Bila kamu mengalami gejala-gejala flu, seperti batuk, pilek, dan demam, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter terdekat, ya.

Cara Atasi Nyeri Leher Akibat Terlalu Lama di Depan Komputer

Cara Atasi Nyeri Leher Akibat Terlalu Lama di Depan Komputer

Stukhealth.net – Bagi kamu yang sehari-hari bekerja di depan komputer dalam waktu yang lama, nyeri leher mungkin tidak asing lagi. Kondisi ini tentunya dapat mengganggu kenyamanan. Yuk, cari tahu cara mengatasi dan mencegah yang bisa kamu lakukan.

Nyeri leher akibat terlalu lama berada di depan komputer biasanya dipicu oleh postur duduk yang kurang baik, kurangnya gerakan aktif pada otot leher, stres, kesalahan ketika menggerakkan leher, atau adanya cedera pada otot leher.

♦ Berbagai Cara Mengatasi Nyeri Leher
Ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi nyeri leher, yaitu:

➢ 1. Atur posisi duduk
Hal pertama yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi nyeri leher adalah mengatur posisi duduk saat bekerja. Jarak dudukmu dengan komputer tidak boleh terlalu jauh maupun terlalu dekat. Usahakan jarak mata dengan layar komputer kurang lebih satu lengan.

➢ 2. Lakukan peregangan otot leher
Pekerjaan yang menumpuk bukan alasan untuk terlalu fokus pada layar komputer dan tidak melakukan peregangan sama sekali, lho. Saat bekerja, sesekali kamu bisa melakukan peregangan otot leher untuk mengatasi leher yang nyeri.

➢ 3. Hindari stres
Tidak jarang pekerjaan yang sudah mendekati deadline atau perselisihan kecil dengan teman sekantor membuatmu stres. Nah, stres dapat meningkatkan risiko terjadinya ketegangan otot leher, sehingga menimbulkan nyeri leher.

Untuk menghindari stres di kantor, kamu bisa mendengarkan musik favorit, melakukan meditasi ringan, atau sekadar berjalan singkat di sekitar kantor.

➢ 4. Kompres dengan air dingin
Bila memungkinkan, kamu bisa mengompres bagian leher yang kaku dengan air dingin selama 20 menit. Kompres dingin bermanfaat untuk mengurangi peradangan dan meredakan nyeri leher. Selain itu, kamu juga bisa mandi air hangat.

Baca Juga : Apakah Green Coffe Bermanfaat Untuk Kesehatan

➢ 5. Tidur yang berkualitas
Setelah lelah bekerja seharian, jangan lupa untuk mendapatkan tidur yang berkualitas. Selain bermanfaat untuk mengembalikan energi, mendapatkan tidur yang berkualitas juga bermanfaat untuk mengatasi nyeri leher.

Untuk mengatasi nyeri leher, kamu bisa tidur dengan posisi telentang atau miring ke salah satu sisi, dan topang leher dengan bantal. Kamu juga dianjurkan untuk mencukupi waktu tidur, setidaknya 6-8 jam tidur per harinya.

➢ 6. Konsumsi obat
Mengonsumsi obat pereda nyeri juga bisa menjadi salah satu pilihan untuk meredakan sakit leher. Obat pereda nyeri leher yang bisa kamu konsumsi adalah paracetamol.

Namun jika rasa nyeri sudah merambat ke tangan, disertai dengan sakit kepala, atau sudah sangat mengganggu aktivitas, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

• Cara Mencegah Nyeri Leher
Setelah nyeri leher sembuh, kamu bisa mencegahnya terjadi kembali dengan beberapa cara mudah, yaitu melakukan gerakan ringan (berdiri di tempat, berjalan kaki, atau melakukan peregangan setiap 30 menit sekali), membatasi penggunaan telepon seluler (ponsel), dan melakukan peregangan otot leher setelah menggunakan ponsel.

Selain itu, hindari tidur dengan posisi tengkurap, karena dapat membuat otot leher menjadi tegang dan nyeri. Sebaiknya tidur dengan posisi miring ke salah satu sisi atau telentang.

Saat tidur, gunakan bantal hanya untuk memosisikan kepala sejajar dengan tubuh. Hindari menggunakan bantal yang terlalu tinggi karena akan membuat otot leher meregang sepanjang malam, sehingga leher bisa terasa nyeri saat bangun tidur.

Nyeri leher akibat terlalu lama di depan komputer dapat mengganggu kenyamanan, sekaligus mengurangi produktivitas kerjamu. Untuk mengatasi dan mecegahnya, lakukan cara-cara di atas ya. Bila nyeri leher tidak kunjung berkurang, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter agar dapat diberikan penanganan yang sesuai.

Apakah Green Coffe Bermanfaat Untuk Kesehatan

Apakah Green Coffe Bermanfaat Untuk Kesehatan

Stukhealth.net – Banyak cara dilakukan penderita obesitas demi mengatasi masalah kelebihan berat badan. Selain pengobatan secara medis, terapi dan konsumsi obat-obatan herbal juga sering dipilih, termasuk penggunaan green coffee yang diklaim mampu menurunkan berat badan dengan cepat.

Biji green coffee bukan berarti biji dari kopi yang berwarna hijau, melainkan biji dari buah kopi yang belum dipanggang. Biji green coffee memiliki tingkat asam klorogenat (CGA) yang tinggi dan diklaim memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan. Salah satunya adalah menurunkan berat badan.

• Penelitian Mengenai Green Coffee
Sejumlah penelitian pada hewan menunjukkan bahwa CGA bisa memberikan efek antidiabetes yang berkaitan dengan efek perbaikan resistensi insulin, efek antiobesitas yang ditunjukkan dengan adanya penurunan lingkar perut subyek, dan efek antilipidemia yang ditunjukkan oleh adanya penurunan kadar lemak darah.

Di samping itu, penelitian dengan memberikan CGA kepada hewan juga menunjukkan penurunan risiko terjadinya sejumlah penyakit yang berkaitan dengan kelebihan berat badan, seperti penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), penyakit hati, serta kanker.

Pada penelitian yang dilakukan pada manusia, pemberian ekstrak green coffee memberikan efek perbaikan pada orang dengan tekanan darah tinggi sistolik, resistensi insulin, dan obesitas di perut. Sebagai tambahan, pemberian ekstrak green coffe juga dapat menurunkan nafsu makan.

Meski begitu, hasil penelitian di atas masih perlu diuji lebih lanjut guna membuktikan manfaat green coffee untuk diet dan kesehatan tubuh, termasuk efektivitas, dosis yang optimal, serta tingkat keamanannya.

• Perbedaan Green Coffee dengan Kopi Biasa
Dalam proses pembuatannya, green coffee tidak melalui proses pemanggangan yang dapat merusak kandungan kimia yang bermanfaat bagi tubuh. Hal inilah yang membuat kandungan CGA di dalam green coffee lebih banyak daripada kopi biasa.

Menurut penelitian, sekitar 45–54% kandungan CGA kopi rusak jika dipanggang dengan suhu 230°C selama 12 menit. Selain itu, lebih dari 99% kandungan CGA kopi hilang jika dipanggang dengan suhu tinggi, misalnya pada City Roast dengan suhu 250°C dalam waktu 17 menit atau pada French Roast dengan suhu 250°C dalam waktu 21 menit.

Proses penyeduhan kopi juga memengaruhi kandungan CGA. Penelitian yang sama mengungkapkan bahwa kopi yang tidak disaring mempunyai kandungan CGA yang lebih banyak daripada kopi yang disaring. Selain itu, ditemukan juga bahwa jumlah ikatan kimia CGA pada kopi espresso lebih banyak daripada kopi yang disaring.

• Efek Samping Green Coffee
Meski memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan dan penurunan berat badan, green coffee juga berisiko menimbulkan efek samping. Seperti kopi pada umumnya, green coffee mengandung kafein yang dapat menyebabkan insomnia, gugup dan gelisah, sakit perut, mual, muntah, serta peningkatan denyut jantung dan laju pernapasan.

Agar aman, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu jika ingin mengonsumsi green coffee sebagai suplemen pendamping program penurunan berat badan. Selain agar terhindar dari risiko efek samping, konsultasi dengan dokter dapat membuat program penurunan berat badan Anda lebih efektif.